Photo mahasiswa nakal

 
(Kamera lolos dari pemeriksaan berkat kerjasama dengan seorang perempuan kader PRD yang bersedia menyelundupkan di dalam bajunya) 9 Mei 1998: FORKOT Salah satu elemen mahasiswa yang sering bentrok dengan aparat namanya FORKOT atau Forum Kota. Begini perkembangan kewajiban zakat pada masa awal Islam. Dari cacing tanah, mahasiswa ini kantongi jutaan rupiah per bulan. Fotografer Erik Prasetya merekam berbagai momen Reformasi 20 tahun. Jakarta Mei 1998. Eskalasi aksi mahasiswa menentang Soeharto mulai meluas ke berbagai kota. Mulanya hanya aksi di dalam kampus, kini mereka mulai bergerak melakukan unjuk rasa di jalan-jalan. 4 Mei 1998: Tapos "Tanah ini milik keluarga kami sejak nenek moyang, tapi mereka merampasnya dengan paksa," tutur seorang petani tentang tanah Tapos yang dikuasai Soeharto dan keluarganya. Peternakan Tapos mulai dibangun tahun 1974 dengan merebut 750 hektar tanah petani. Di kawasan ini lalu dibangun berbagai proyek pertanian dan peternakan, yang sering menjadi tempat pertemuan informal Soeharto dengan para kroninya. Karena pasokan pangan hewan butuh tanah yang lebih luas, para petani dilarang menggarap kebun dan dipaksa menanam rumput gajah. Saya menyaksikan sendiri poster tersebut dibuat di sebuah sanggar teater di Kampung Melayu pimpinan aktivis dan aktris teater terkenal Ratna Sarumpaet. 8 Mei 1998: Partai Rakyat Demokratik. Reformasi 1998, H-14 Partai Rakyat Demokratik PRD dideklarasikan pada 22 Juli 1996, dengan ketua Budiman Sudjatmiko. Banyak dari anggotanya adalah intelektual muda dan aktivis, khususnya mahasiswa. 11 Mei 1998: Suara Ibu Peduli. Reformasi 1998, H-10 Sejak Orde Baru berkuasa gerakan perempuan telah dikooptasi menjadi perkakas politik negara lewat Dharma Wanita dan Kowani. Welcome to our Community Page, a place where you can create and share your content with rest of the world. Demo di Monas hanya berlangsung setengah jam, tapi 'magnitude'-nya cukup besar mengingat demo ini dilakukan oleh ibu-ibu. Saya bahkan mendengar laporan polisi pada pesawat HT yang melaporkan demo SIP sebagai Susu Ibu Peduli. Mereka bertiga kemudian diangkut dengan truk dan diproses (anehnya) pada bagian Susila. 12 Mei 1998: Peluncuran novel 'Saman.' Reformasi 1998, H-9 Pada 12 Mei 1998 itu Teater Utan Kayu (TUK) akan mengadakan peluncuran novel Saman, karya Ayu Utami. Novel itu sedang ramai dibicarakan, karena, selain menang sayembara Dewan Kesenian Jakarta, juga dianggap mendobrak segala tabu: seks, agama, dan politik—seperti membawakan suara zaman yang muak dengan rezim Orde Baru. Memasuki pertengahan 1997 krisis moneter (krismon) melanda Indonesia. Nilai rupiah anjlok terhadap dolar Amerika, yang berfluktuasi Rp12.000-Rp18.000 dari Rp2.200 pada awal tahun. Peran perempuan yang sebelumnya penting dalam kehidupan sosial direduksi menjadi "kaum Ibu" yang harus tunduk dalam pakem politik patriarki. Pada pertengahan 1980an ketika ide feminisme mulai masuk dalam kesadaran perempuan kelas menengah terpelajar Indonesia, perjuangan menuntut kesetaraan gender mulai disuarakan. Di Jakarta ada Kalyanamitra dan Solidaritas perempuan. Di Yogya muncul Kelompok Perempuan Cut Nya' Dien, dan berbagai tempat terutama pada daerah konflik seperti Aceh, Papua, Timor dlsb. Tempat ibadah unik di Magelang, dibuat menyerupai ayam. Pada 1997 saat krisis moneter, aktifvs perempuan dari berbagai lembaga membentuk Koalisi Perempuan Indonesia. Koalisi ini kemudian terlibat dalam aksi-aksi politik mendukung gerakan mahasiswa dan memasukkan perspektif gender dalam tuntutan gerakan reformasi. Awal 1998 ketika krisis makin parah, para aktivis yang tergabung dalam Suara Ibu Peduli (SIP) menuntut penurunan harga susu. Pius Lustrilanang seorang korban menceritakan penyekapan dan penculikan yang dialaminya selama dua bulan oleh Tim Mawar. Testimoni di Komnas HAM ini menyentak kesadaran kita akan bobroknya pemerintah saat itu dan memicu tuntutan akan perubahan. Tuti Koto, ibu dari Yani Afri salah satu korban penculikan yang tidak kembali, menanyakan keberadaan putranya ke Dephankam. Hingga akhir hayatnya November 2012, Ibu Tuti Koto tidak pernah mendapatkan kejelasan tentang putranya. 7 Mei 1998: Tim Mawar Masih soal penculikan akitivis. Siapa yang melakukan dan harus bertanggung jawab? Namun Soeharto tetap penuh percaya diri, dan melakukan perjalanan ke luar negeri. Ia terbang ke Jerman untuk berobat. Peregangan otot ternyata bisa mencegah terjadinya rabun lho. Haji Dodo petani Tapos yang melawan dan tetap menanami kebonnya harus berurusan dengan aparat yang memenggal pergelangan tangannya. "Sampai sepuluh tahun saya merasa tangan saya masih ada, sering gatal pada bagian yang buntung," katanya. Pada latar belakang tampak pembangunan villa yang mangkrak milik Tommy Soeharto. 6 Mei 1998: Penculikan aktivis 1997-1998 Penculikan aktivis 1997/1998 adalah proses penghilalangan secara paksa atau penculikan terhadap aktivis pro-demokrasi yang terjadi menjelang pemilu 1997 dan SU MPR 1998. Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan KONTRAS mencatat 23 orang telah dihilangkan oleh alat negara selama periode 1997-1998. Dari angka itu satu orang dinyatakan mati, sembilan orang dilepaskan dan 13 lainnya masih hilang hingga hari ini. Seiring dengan meningkatnya eskalasi gerakan mahasiswa, dukungan dari berbagai elemen masyarakatpun meningkat. Dukungan mulai membanjir dari elite politik, organisasi non pemerintah, buruh dan rakyat. Berbagai gerakan mulai menyokong dan menyumbang pada gerakan mahasiswa. Bahkan tidak jarang secara perorangan. Bentrok di bawah jembatan Semanggi. Saya sudah berniat meninggalkan lokasi ketika mereka menyanyikan "gelang sipatu gelang." Seseorang lalu mencolek saya dan memberi isyarat agar siap-siap. ! Temuan tiga lembaga di bawah negara, DKP, TGPF dan Tim Ad Hoc Komnas HAM memberikan rekomendasi supaya Prabowo dan semua pihak yang terlibat penculikan diadili di Pengadilan Militer. Dalam kenyataan yang diadili hanya Tim Mawar, tapi mereka hanya 11 orang pelaku, bukan pengambil keputusan. Walaupun Prabowo diberhentikan atas rekomendasi Dewan Kehormatan Perwira sebelas tahun sebelum masa pensiun, namun ia tak pernah diadili.
***

 
***

***
***

 




***


© 2004-2013

</